Jalan Medan-Merek Hancur-hancuran

Kemarin, dengan seorang teman aku berangkat dari Medan menuju Tanah Karo. Kondisi jalan dari Medan-Sibolangit masih mulus lah…walaupun banyak juga lobang disana-sini. Tetapi memasuki Bandar Baru (Lokalisasi pria hidung belang dan PSK), jalan sudah mulai hancur yang mengakibatkan mobil yang ku kukendarai harus meliuk-liuk mencari jalan-jalan yang tidak berlobang, tapi hasilnya tetap nihil. Jalan betul-betul hancur. Aku mulai berpikir, ini salah Pemerintah Provinsi dalam hal ini Dinas Jalan dan Jembatan, Pemda Deli Serdang atau Pemda Karo. Apa pejabat-pejabat yang bersangkutan tidak pernah lewat jalan ini kalau ke Berastagi, atau mereka naik helikopter ya?

Alasan pejabat-pejabat itu di berbagai media selalu menyalahkan pengusaha-pengusaha makanan dan minuman yang ada di sekitar jalan yang rusak tersebut. Karena rumah makan dan kedai minuman itu menyediakan air untuk mobil-mobil besar yang mau berhenti untuk minum dan air itu digunakan untuk mencuci mobil atau minimal menyiram ban-ban mobil yang panas karena muatan mobil yang cukup berat. Tapi apakah memang betul karena mereka? atau apakah karena mobil-mobil besar yang melebihi tonase muatan yang notabene di check ditimbangan Dinas Perhubungan? Entahlah…

Sesudah melewati ‘penderitaan’ dengan jalan yang rusak tersebut? mobil yang kukendarai meluncur menuju kota Kabanjahe karena kami melanjutkan perjalanan ke Desa Semangat. Memasuki kawasan jembatan Lau Dah, walaaaaah…jalan lebih hancur lagi! Sialnya, lobangnya benar-benar dalam. Tuhan…cobaan apa lagi ini? :(

Apakah tidak ada anggaran APBD Karo untuk memberikan sarana jalan yang bagus untuk masyarakat? Pemerintah gencar mengumumkan ‘taat pajak’, tapi kemana semua uang-uang pajak yang diberikan masyarakat? Jalan aja gak ‘becus’ untuk ditanggulangi, apalagi hal-hal yang krusial lainnya? wallahualam lah…

Kemana semua pejabat-pejabat pemerintah yang terkait? Bupati Karo, Dinas J & J Kab.Karo, wakil-wakil rakyat yang duduk manis di DPRD? Apakah kita tidak punya hati nurani dan keinginan untuk membuat Tanah Karo menjadi daerah nyaman dengan sarana dan prasarana, apalagi dengan dicetuskannya tahun kunjungan pariwisata 2008? Sedangkan jalan saja sudah tidak nyaman, apalagi tempat pariwisatanya?

Bagaimana mungkin wisatawan bisa betah, kalau sebelum memasuki daerah pariwisata saja sudah ‘diberondong’ dengan jalan-jalan yang hancur?

Jangan jadikan kekuasaan mematikan hati nurani kita…

One Response to “Jalan Medan-Merek Hancur-hancuran”

  1. SITUHUNA ADI BANTUAN ARAH PEMERINTAH LABOM KURANG I TANAH KARO MASIARAKT I SEKITARNA NGE SI KURANG KESADARANNA UNTUK MENJAGA MUDAH-MUDAHAN TANAH KARO REH JILENA KU OPUDI WARI

Kirimkan komentar Anda