Statement ‘Konyol’!

Beberapa hari lalu sambil sarapan aku membaca sebuah koran harian terbitan lokal di Medan. Tertulis judulnya harga jeruk naik menjadi Rp.3.500 dan cabe (harganya aku lupa). Tetapi sayangnya, buah jeruk tidak ada untuk dijual, bahkan kalau ada pun hanya sedikit. Meskipun aku bukan orang pintar soal ekonomi, kalau barang tidak ada pasti harga tinggi, tapi coba kalau barangnya banyak, bisakah harga tinggi?

Sekarang ini petani-petani Karo menjerit karena harga jeruk yang semakin hari semakin turun, apalagi pada saat panen raya. Bisa-bisa modal pun tidak kembali.  Alhasil, jeruk-jeruk itu dibiarkan berjatuhan dari pohonnya dan membusuk. Mereka berpikir, lebih baik tidak dijual karena tidak sesuai apa yang sudah dikeluarkan dengan apa yang akan diterima. Apa imbasnya terhadap hal-hal yang lain? pengusaha-pengusaha pupuk pun menjerit karena kurangnya pembelian pupuk oleh masyarakat karena disebabkan harga pupuk yang membumbung  tinggi tetapi tidak dibarengi harga jeruk yang tinggi pula. Belum lagi pengusaha-pengusaha ekspedisi yang harus ‘rela’ beberapa truk-nya harus nganggur karena biaya pengiriman yang tidak sesuai dengan cost (biaya) yang dikeluarkan untuk truk-truk tersebut. Para pengusaha transportasi ini juga tidak berani menaikkan ongkos pengiriman jeruk ke Jakarta, karena harga jeruk yang dikirim ke Jakarta juga tidak berubah, padahal banyak biaya-biaya yang dikeluarkan untuk jeruk tersebut.

Disamping itu permintaan jeruk ke Jakarta sudah menurun dikarenakan sekarang tidak hanya jeruk dari Karo saja yang masuk ke Jakarta, tetapi ada jeruk dari Kalimantan, dan daerah-daerah lainnya.  Bahkan negara-negara yang selama ini meng-impor jeruk dari Karo, salah satunya negara Singapura juga tidak menerima lagi buah ini dikarenakan pemakaian pestisida yang berlebihan yang digunakan pada jeruk ini.

Sampai saat ini, aku belum pernah mendengar statement dari Pemda Karo mengenai keadaan ini. Mereka sibuk dengan kerjaan mereka, tanpa memikirkan nasib para warga Karo yang sebagian besar adalah petani. Tidak adakah hati nurani lagi yang berbicara untuk mengatasi keadaan ini? Tidak adakah terobosan baru yang dilakukan Pemda Karo untuk permasalahan ini?

Seharusnya kita belajar dari negara-negara yang notabene belajar dari pertanian Indonesia dan berhasil setelah memperoleh ilmu dari petani-petani Indonesia. Sebut saja negara Thailand. Para petani disana sudah tahu apa yang namanya pertanian modern. Setiap hasil pertanian mereka, tidak peduli saat panen raya atau panen apalah…HARGA TETAP SAMA! Sehingga mereka tidak perlu menjual kesana kemari produk mereka, cukup jual ke pasar dan mereka mendapatkan harga yang setimpal.

Bagaimana dengan Pemda Karo?

3 Responses to “Statement ‘Konyol’!”

  1. demi menstabilkan harga jeruk di tanah karo maka pemda tanah karo harus membuat suatu trobosan dengan cara membuka sebuah pabrik pengolahan yang menggunakan bahan baku jeruk. seperti perusahaan frutang atau duatang yang terletak dibogor.

  2. setuju!!
    mudah-mudahan ada investor yang berniat membuka pabrik di Tanah Karo. Karena dengan berdirinya sebuah pabrik akan membuat petani jeruk bisa menjual hasil panen langsung ke pabrik dan akan menyedot ribuan tenaga kerja dan meningkatkan PAD Pemda Karo.

  3. kalo boleh qt tidak usah terlalu mengikuti atau mengkiblati negara orang tetapi kita juga harus melihat realitas kehidupan dan cara pandang masyarakat indonesia kepada diri kita sendiri. di statement yang di atas juga saya melihat adanya kesibukan dari pemerintah daerah,, apa sih yang disibukan??? urusan negara?? paling-paling berusaha buat ngisi kantong haram dengan duit halal……….
    malahan di sini mereka tidak memandang masyarakat mereka padahal kan ada untuk melayani masyarakat. jalan yang cukup membantu mungkin dengan cara para petani harus membuat kelompok-kelompok tani kecil,dan berstruktur pada organisasi yang di setujui bersama semua anggota tani dengan kata lain semua memiliki hak bersuara. dan jangan terlalu bergantung pada pemerintah daerah…..

Kirimkan komentar Anda